Kamis, 16 Februari 2017

Catatan Harianku


Catatan Harian


Dalam UU No. 20 tahun 2003 : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara efektif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. 
Jujur akhir-akhir ini banyak hal yang saya dapati saat kampanye Pilkada, berbagai macam ancaman-ancaman, saling mengolok-olokkan, merasa hebat dan akhirnya saling menindis satu sama lainnya, banyak perbedaan dan saling menjatuhkan. Padahal kita bersaudara saling membutuhkan. Namun mustahil ada asap jika tak ada api. 
Biarlah ini hak mereka. Bukannya saya ingin memihak pada seseorang, hanya saja saya membuat tulisan ini karena saya hanya ingin menyampaikan perasaan saya saat ini. Sebenarnya saya tak ingin permasalahkan Pilkada, hanya saja saya sangat kecewa dengan berbagai cemoohan-cemoohan di luar sana yang katanya "tenang saja akan ada saat dimana lembaga itu akan kita tutup". Wah, hebat sekali orang-orang itu padahal ini lembaga Pendidikan loh, tempat belajar anak-anak emas kita yang akan menjadi generasi bangsa. Astagfirullah... Haruskah seperti ini hanya karena perbedaan pilihan. Anak-anak tidak tahu menahu akan hal ini, bagaimana jika seandainya terjadi? Apa kalian tidak berpikir betapa banyaknya anak emas kita yang akan menangis jika tempat untuk menuntut ilmu yang Ia miliki tiba-tiba kalian seenaknya ingin kalian tutup? Tidak segampang itu. Bagaimana pula perasaan para pendidiknya dan para tenaga kerjanya jika hal yang kalian itu inginkan terjadi? Apa kalian mampu menanggung semua kebutuhan pokok para tenaga kerjanya sedangkan pengangguran di Daerah kita masih banyak, bukannya memikirkan kesejahteraan rakyatnya terutama bagaimana cara mengurangi jumlah pengangguran. Ya Allah betapa kejinya orang yang seperti itu, mereka tidak memikirkan sebelum bertindak dengan gampangnya mengucapkan kalimat itu tanpa memikirkan perasaan orang lain. Biarkan saja ini menjadi masa lalu, karena air mata yang kemarin akhirnya terbalaskan dengan kebahagiaan dan semangat yang luar biasa. Allah SWT memiliki rencana yang lebih indah. yang kemarin mereka ingin menjatuhkan ternyata berbalik kepadanya sudah jatuh tertimpah tangga pula mungkin seperti itu pepatahnya. Di sini saya tidak ingin mencari perkara, hanya saja saya hanya ingin menceritakan perasaan saya melalui Penaku. Betapa sedihnya perasaan seorang pendidik jika dunia belajar anak generasi kita tiba-tiba ingin dihapuskan hanya karna permasalahan politik semata. Ya Allah apa yang ada di pikiran mereka begitu gampangnya mengucapkan kalimat itu. Kecewa yah.. itulah yang saya rasakan beberapa hari yang lalu. Tapi karna Doa dan Dzikirlah yang mengubah semuanya. Akhirnya Allah memberikan nikmat yang luar biasa orang orang yang terdzolimi, orang orang yang dihina mereka ada pada lindungan Allah SWT. Allah SWT berfirman: 
                                 فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
 "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman: Ayat 30) 
 Allahu Akbar
 Tetap istiqomah di jalan Allah. 
Pilihlah pemimpin yang baik untuk agama kita. 
#InsyaAllah 
#semogaAmanah 


NHS : Takalar, 16 Februari 2017

Minggu, 26 Juli 2015

Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama

hati itu tak bisa ditebak, mata yang memandang mampu mengubah suasana menjadi bahagia.

Rabu, 09 April 2014



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdURZkMHHhYDv0XBoOGtbfXVgKpByBXpc8utF5B5kZzImfraG_5cTbXz0TMQ2ylgAM_a2a_nB6a79T91Dw1y1KAC7gLvPUlg1py4elczKyenXsCeEJS0C8kgToZjROtrnzVF8dqAVV6UA/s1600/SENYUM.jpg
 Perempuan itu, dia adalah kekasih yang sudah tiga tahun lebih menghiasi waktuku. Perempuan yang telah hadir atas nama Ranni Dewinta Puspa, dengan tutur sapanya yang selama ini mampu meluluhkan hatiku di sebuah pesta undangan makan siang seorang teman di sebuah restoran.

Sejak saat itu, kisah berlanjut dan berjalan indah seakan-akan tak pernah ada masalah antara aku dan Ranni dalam meniti keseharian yang indah penuh warna dan kisah yang susah untuk dilupakan buatku.

Tangis, canda dan tawa selalu menjadi simponi kerinduan di hatiku. Hubungan kami selama ini manis-manis saja dan aku sangat menikmati kebersamaanku dengannya.


Ketika senja menapakkan dirinya di hadapanku, entah kenapa tiba-tiba saja aku teringat akan bayangan Ranni, seakan-akan aku takut kehilangan dirinya.

Kucoba untuk menghubunginya tapi Ranni tak mengangkat telpon aku. Entah apa yang terjadi, tak biasanya Ranni seperti ini, aku semakin cemas. Berkali-kali kuulangi untuk menghubungi Ranni tapi tak ada satupun jawaban darinya. Apa yang sebenarnya terjadi, cemas, risau, kacau, galau semua aku rasakan.

Seolah-olah aku merasa Ranni marah padaku tanpa sebab, dan kuputuskan untuk mengirimkan pesan padanya.

Yang, malam ini aku merasa ada yang hilang dariku, tak biasanya aku merasakan seperti ini, apa mungkin karena malam ini kamu tak memberiku kabar, adakah kamu baik-baik saja di sana? please... balas pesan aku, Yang...”

Berselang setelah beberapa menit menunggu balasan pesannya, akhirnya Ranni membalasnya.
Hancur lebur perasaanku ketika kubaca balasan pesan dari Ranni.

Maaf jika aku membuatmu cemas, malam ini aku baik-baik saja, belajarlah tuk melupakanku, aku tak ingin jadi anak yang durhaka pada orang tuaku, maafkan aku, lupakan saja diriku.

Bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal itu, apa yang sebenarnya terjadi, sungguh aku tak mengerti dengan keputusannya yang mendadak untuk mengakhiri kisah cinta ini, meninggalkan aku dengan tanya yang belum jelas.

Aku tak sempat mengangkat telponmu tadi, karena saat itu aku tengah menjamu kedatangan keluargaku, dan ternyata, selama ini aku dijodohkan oleh orang tuaku.

Kalimat itu adalah kalimat yang terakhir kalinya yang masuk melalui pesan di handpone aku, setelah itu, dia raib dan menghilang entah ke mana. Tak kusangka yang tersisa tinggal kenangan, kasih sayang yang selama ini kurasakan berubah menjadi kebencian.

Aaahhhh.... Mengapa harus aku yang menerima kenyataan pahit ini. Hancur seluruh hasratku, tiba-tiba saja aku harus kehilangan dia yang telah kutetapkan sebagai cinta terakhir. Dia lupa dengan janji yang pernah kita buat, tak ada lagi cinta yang lain hanya milik kita berdua. Aku akan menunggumu sampai tiba pada waktunya ketika kita bersanding diatas pelaminan, semuanya hilang.


Kamu egois, kamu keterlaluan, sungguh saat ini aku benci kamu Ranni. Tak mungkin juga aku akan membawamu pergi yang sementara selang dua minggu lagi kamu akan bersanding di atas pelaminan bersama lelaki pilihan orang tuamu. Rasanya aku ingin membawamu kabur saja. Tapi entah sekarang kamu ada di mana, pencarianku berakhir dengan luka dalam hati. 

Hari demi hari aku lebih memilih untuk mengurung diri di kamar, aku masih belum percaya atas apa yang telah kau perbuat kepadaku. Aku begitu setia padamu begitu tulusnya menyayangimu, namun beginikah balasanmu?

Entahlah, apakah aku harus terus-menerus merasakan kesakitan ini atau lebih baik aku mati saja. Malam itu aku masih tetap bertahan di dalam kamar dengan sejuta pertanyaan tak terjawab. Badanku mulai gemetar, oleh rasa sakit yang kurasakan.


Esok adalah pesta pernikahanmu, ragaku tiada berdaya, terasa lemah, pikiranku kosong, mataku mulai berkunang-kunang seakan yang kulihat di depanku menjadi terbalik dan tak kusadari ternyata aku terjatuh di lantai dan tak sadarkan diri.

Keesokan harinya kita aku terbangun dari tidurku, rasanya seperti mimpi. Ini bukan kamar aku, di mana aku, kenapa tiba-tiba saja selang infus tepasang di lenganku. Ternyata semalam tadi aku jatuh pingsan di dalam kamar dan tak sadarkan diri.


Hari ini adalah hari pesta pernikahan Ranni, sementara aku harus terbaring di rumah sakit. Tak ada lagi yang harus kuharapkan kepadamu Ranni, kamu telah dimiliki oleh lelaki pilihan orang tuamu. Aku harus bisa terima kenyataan itu, pikirku.

Sementara aku terbuai menatap pemandangan di balik jendela yang berada di samping ranjangku. Tiba-tiba saja pintu kamar di mana aku dirawat terbuka oleh ulah anak kecil yang tengah bermain lalu tanpa sengaja mendorong pintu. kubangunkan badanku untuk menutup pintu kamar itu, namun ternyata fisikku masih lemah, aku tiba-tiba saja terjatuh di lantai dan tak mampu berdiri sendiri karena kondisiku masih lemah.

Sampai akhirnya seorang wanita dengan wajah yang mempesona datang menghampiriku, sementara aku berusaha untuk bisa berdiri dan kembali ke ranjang itu. 
“Selang infusnya terlepas, sebentar ya mas, saya panggilkan susternya dulu untuk memasangnya.” Tutur katanya, ditambah senyuman manisnya itu seakan-akan mampu membuatku lupa akan sosok Ranni.
“Eehh... tidak usah. Aku tidak apa-apa kok, aku hanya ingin meminta sesuatu hal sama kamu, boleh?”
“Apa?”
“Aku ingin duduk di kursi roda itu, tolong bantu aku untuk duduk di kursi itu.”
“Loh... bukannya mas harus istirahat?”
“Aku bosan di ruangan terus, aku ingin menghirup udara yang sejuk, kamu mau tidak menolongku?” “Ya udah, sini saya bantu, sekalian saya bawa ke suatu tempat ya mas? Dijamin di sana mas bisa menghirup udara yang sejuk.”

Senyuman gadis itu membuat jantungku bergetar, entah dia mau membawaku kemana, aku hanya menikmati perjalanan di atas kursi roda sampai ke suatu tempat, tiba-tiba saja wanita itu menghentikan doronganku.

Dia melangkahkan kakinya ke depanku dan menatapi langit yang begitu cerah sambil tersenyum.
“Mas tahu tidak, ketika kita harus dihadapkan pada kenyataan yang sungguh bukan keinginan kita? Itu semua adalah tantangan untuk kita, jangan terus menerus terpuruk pada hal yang telah terjadi yang membuat kita jadi kehilangan arah,” ungkapnya penuh penghayatan, sementara aku hanya tergeragap mendengar petuahnya.


Dia melanjutkan, “Seharusnya kita bangkit akan hal itu, cinta itu sudah diatur oleh sang pencipta. Yakinlah cinta itu akan indah pada waktunya.”

Entah apa yang ada di pikiran wanita itu, dari mana dia tahu jika aku tengah patah hati.
“Maaf mas, aku melihat di wajah mas jelas terbaca kalau mas itu sedang patah hati. Sungguh sia-sia kamu masih belum bisa bangkit dari semua itu.”

Seraut wajahku tetap datar namun hatiku tidak, aku tersadar bahwa ternyata dia mampu membuatku tersenyum kembali. Saat itu juga aku mampu mengikhlaskan Ranni untuk bersama lelaki lain.


Hari demi hari ketika aku dirawat di rumah sakit, rasanya kutemukan cinta sejati. Cinta yang datang manakala hatiku sedang hancur dan dia mampu membuatku tersenyum kembali karena usahanya. Terima kasih Tuhanku telah mengirimkanku bidadari yang sesungguhnya untukku.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJ6PZ-F-MXo5vQSSGn5OG2w95Bgv-w6my3buGtvYJ34quczXAB-lE6x00LplPnkLVpjYMTiAcosaPvRZGUaIPKCJqKh1Vugq0qUFRGOA0IZ7MH8FL91LQkICGBzIRIVMFj8niLvUS7Qk8/s1600/Cerpen.jpg
Nhia Hasniaty Syam, Mahasiswi STAI Yapis Takalar dan mencintai menulis

Cerpen: Senyum Itu Terukir Kembali

Cerpen: Senyum Itu Terukir Kembali

Kamis, 28 November 2013

Kamu kembali
(Aku tak tahu harus bagaimana)

Malam ini aku  menangis tanpa air  mata. Entah apa yang harus aku lakukan, mendengar suaramu adalah hal yang terindah buatku.  Kamu hadir disaat aku terpenjara, apa mungkin Tuhan tak mau melihatku terus terpuruk. Aku merasakan kembali bahagia. Bahagia yang begitu lama aku inginkan bahkan malam ini aku belum bisa fokus pada satu tujuan. Ya.. tujuan aku malam ini adalah berusaha melupakan problema yang saat ini aku alami dan memikirkan tugas kuliah aku yang belum kelar-kelar. Ya Tuhan aaaaahhhhh........ thankz untuk semuanya Tuhan.....
Hufft.........
Berkali-kali aku berusaha untuk fokus pada tugasku namun tak kuasa aku menahan rasa ini. Aku merasakan jatuh cinta yang kedua kalinya dan sungguh sangat-sangat bahagia kurasakan. Aku tak peduli lagi apa yang telah terjadi di masa laluku. Aduh.... ada apa pada diriku ini..????
Fokusss..... fokusss.... fokusss...
Aku harus fokus malam ini. Lupakan Dia sejenak yang hanya membuatmu lupa dengan tugasmu. Usaha... usaha... usaha...
Aku harus berusaha untuk melupakannya. Untuk malam ini saja titik.
***












Cinta tanpa Jeda.
Aku bahagia karena kamu masih ingat kata-kata itu. Setelah sekian lama kamu tak pernah lagi hadir dikehidupanku dan malam ini kamu datang diwaktu yang sangat tepat. Saat aku butuh seseorang yang mampu membuatku melupakan problema kehidupanku. Salahkah diriku jika aku menerima dirimu kembali yang dulunya aku telah janji pada diriku sendiri untuk tidak lagi mau menerima dirimu kembali jika memang ada saatnya untuk kamu mengatakan itu. Yah... janji yang kubuat ternyata tak mampu aku jalani, sunggu aneh pada diriku. Aku yang begitu tegar atas segala yang terjadi, namun ketika menghadapi dirimu begitu sulit untuk kukatakan aku tegar.

Dua hari yang lalu aku sangat terpuruk sendiri. Handpone aku tak berdering, kubuka akun facebookku namun tak ada yang menarik. Rasanya aku lebih baik menikmati nasibku yang malang ini.


Di saat aku merasakan getar yang membuatku ragu pada dirimu, khayalan yang begitu konyol jika kuceritakan kisahku pada teman-teman aku. Rasanya aku sangat malu untuk menjelaskan semuanya.
Itulah perjalanan cintaku.
Cinta yang hadir setelah sekian lamanya kami menjalin persahabatan, cinta yang dulunya hanya sebatas kasih sayang selayaknya seorang sahabat. Namun cintanya juga yang membuatku jadi gila ketika kami memilih mengakhiri hubungan ini.
Aku bahkan lupa kapan kamu mengatakan itu padaku, mengatakan bahwa kita begitu banyak perbedaan dan tak tahu harus bagaimana.
Saat itu juga aku memutuskan untuk tak lagi menghubungimu. Jika aku diminta untuk jujur aku akan mengatakan aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu.
Malam yang begitu haru buatku. Saat sunyi yang menghampiriku, saat lelah yang kurasakan. Aku bagaikan  debur ombak yang mampu pecahkan karang. Malam itu juga aku memutuskan untuk tak lagi mengenangmu.
Seperti biasa... aku menjalani keseharianku dengan kesibukan yang dengan cara itu aku mampu melupakan dan berhenti berharap dari perhatianmu. Aku hanya wanita yang selalu menerima belas kasihan dari teman-teman. Setiap kali temanku melihatkan perhatian dari kekasihnya aku hanya bisa menangis dalam hati dan berkata sebenarnya aku juga sangat ingin Dia begitu padaku. Namun bagiku mustahil jika Dia tiba-tiba muncul dan memberikanku perhatian sama halnya yang dirasakan temanku itu.
Bahkan aku bingung pada diriku sendiri, mengapa aku harus berharap pada Dia. Dia dia dan dia...
Bukankah setiap insan akan memiliki kekasih yang lebih baik jika kekasih sebelumnya meninggalkan kita. Tentu pasti akan ada yang lebih baik. Namun aku sendiri tak mau menerima kenyataan. Mengapa setiap kali aku iri pada hubungan teman aku, aku hanya berharap kapan Dia bisa seperti itu. Buat apa coba aku berharap seperti itu yang jelas tak mungkin kembali lagi.
Itulah yang kurasakan.


Aku belum mampu untuk menerima yang lain. Bagaimana jika seandainya aku menunggunya sedangkan dia telah dimiliki oleh wanita yang lain. Jawabanku adalah aku akan tersenyum walaupun itu sangat sakit kurasakan, namun aku tak akan menggantikannya dari yang lain. Aku sangat mencintainya. Bahkan setelah lamanya hubungan aku dan Dia berakhir aku masih menganggap jika Dia masih milikku.
Walaupun aku tak pernah bersamanya namun karena sayangku yang tulus dan ikhlas ini membuatku jadi yakin bahwa suatu saat nanti aku akan berubah dengan suatu hal yang berbeda. Namun kuhaturkan pada diriku jika memang aku masih mengharapkan dirinya aku yakin cinta itu tak harusnya dia tahu karena bagiku cinta tanpa jeda yang bisa memberiku hidup yang sederhana. Berharap disisi  yang tak nyata. Apa salahnya jika aku berkhayal bahwa dia milik aku. Setidaknnya aku bukan pihak yang membuat hubungan dengan kekasihnya yang baru jadi runyam. Bahkan aku sangat ingin mengenali siapa kekasihnya sekarang. Aku hanya ingin memberitahukan apa yang kamu sukai.
Beberapa bulan kemudian ketika bulan Februari    tepatnya dihari kasih sayang aku kembali menangisimu dalam pelukanku yang terpatri mengunyam siksaan rindu pada dirimu. Kamu belum sempat memberiku kado istimewa yang pernah kamu janjikan buatku. Jika suatu saat nanti di tahun baru tahun 2013 tepatnya di hari valentine aku akan memberikanmu kado yang istimewa.
Semuanya telah hilang. Februari, maret, april, mei, juni, juli, agustus, dan september. Aku tak pernah lagi melihat wajahmu. Namun hal itu aku tak pernah merasa jauh darimu karena disetiap tidurku kamu selalu menemaniku walupun hanya dalam mimpiku. Aku tak tahu   mengapa Tuhan  membrikanku bunga tidur seperti itu. Bersama dirimu menjalani keseharian yang tak pernah ada masalah antara kita. Andai saja itu nyata betapa bahagianya diriku. Lewat mimpi saja aku sangat bahagia. Apalagi jika ini nyata.
***

OKTOBER KEMBALI
Bulan ini  bulan oktober aku bahkan sempat ragu mengapa di bulan ini aku tak pernah mendapatkan keberuntungan. Di hari pertama aku
Tuhan memberikanku penyakit yang tak kuinginkan. Suaraku hilang tak bisa bersuara kecuali aku berkomunikasi dengan yang lain menggunakan bahasa bibir bahasa isyarat.
Satu minggu berlalu influenza aku belum sembuh juga. Rasanya aku  bagaikan burung yang ingin terbang namun tak memiliki sayap. Setiap kali teman-teman aku mengeluh padaku tentang kisahnya dengan kekasihnya, aku hanya bisa  menghargai keluh kesah darinya.

Satu minggu berlalu dan ini adalah hari kedua untuk menuggu yang akan datang di bulan oktober 2013. Kemarin di bulan oktober 2012 adalah bulan dimana aku dan dia berakhir. Tenyata oktober kembali lagi. Aku masih sendiri sampai saat ini, sedangkan Dia sudah ada yang lain.mengapa aku belum mampu meluluhkan hatiku buat pria yang lain. Sekian banyaknya pria yang lebih baik dari dia aku belum mampu membukakan pintu hatiku untukknya.

Satu tahun berlalu setelah aku dan kamu bukan siapa-siapa lagi. Tak sadar ternyata sudah setahun kita tak ada kabar. Namun saat ini jika kamu hadir dihadapanku aku akan mengatakan aku masih milikmu. Aku masih kekasihmu.
Namun semuanya mustahil. Oktober kuingat lagi kisahku saat perpisahan aku dan kamu. Rasanya baru sebulan aku berpisah denganmu.

Ketika cinta menebarkan bau pasak  detik-detik itu juga aku menghitung waktuku. Inikah saatnya aku harus melupakan dan membuang jauh-jauh harapanku. Cinta tak mestinya  kumiliki.    Cinta semestinya kucari dan kupelajari dari kasih sayang seseorang yang bukan Dia(yang kuharapkan).

Oktober yang kelabu
Semalam kamu hadir dalam mimpiku.
Bahagianya diriku ketika kuterbangun dari mimpiku.
Mimpi yang menemaniku dalam kegelapan.
Cintaku berujung dengan harapan tak mungkin kembali lagi.
Itulah ungkapan terakhirku.

Kamu kembali
Oktober...
Malam ini kamu kembali.
Setahun berlalu kamu tak pernah memberiku kabar
kamu kembali lagi
aku tak tahu harus bagaimana.
Awalnya aku tak ingin menerima telpon dari siapa pun, apalagi ini nomor  baru. Aku cukup dirundung pilu saat ini. Namun aku tak tahu mengapa aku tiba-tiba saja menerima telponmu.
Ya Tuhan...
Apakah ini keajaiban buatku???
Buat diriku yang bersabar menanti dirinya.
Dia menelponku.

Assalamu alaikum zahwa..??

Kujawab salamnya kembali
Waalaikum salam..!!

zahwa bagaimana kabarnya..??

Kabarku saat ini tak  mendukung,, sudah dua minggu lebih aku flu tak sembuh-sembuh juga.
Jawabanku dengan hati-hati dan mengingat bahwa ini adalah suara Dia.

Seharusnya kamu banyak istirahat,,, masih kenal dengan aku..??

Tak kau sebutkan siapa kamu aku  sudah mengenalimu...
Rasanya aku ingin menangis mendengar suaranya.

Syukurlah kalau begitu aku masih dikenali...

Ehm.....
Selama ini kamu kemana kenapa kamu muncul begitu saja..??

Sebelumnya aku minta maaf karena telah menghubungimu kembali banyak hal yang ingin kujelaskan padamu namun yang paling penting adalah masihkah kau menerimaku jika kuinginkan kau kembali padaku ataukah sebaliknya…??? Aku masih mencintaimu zahwa…

Justru aku sangat bahagia karena kamu telah hadir kembali dalam kehidupanku.
***

Zahwa

Saat dirimu pergi menjauh
Perasaanku sungguh tak pernah berubah
Keyakinan yang kualami
membuatku semakin percaya…

Percaya bahwa suatu saat nanti
Kamu akan kembali padaku
Kembali meminta cinta yang
Sempat menghilang entah kemana…

Terima kasih karena telah kembali
Inilah cinta kita
Cinta tanpa jeda
Yah… kamu masih ingat itu…