Perempuan itu,
dia adalah kekasih yang sudah tiga tahun lebih menghiasi waktuku. Perempuan
yang telah hadir atas nama Ranni Dewinta Puspa, dengan tutur sapanya yang
selama ini mampu meluluhkan hatiku di sebuah pesta undangan makan siang seorang
teman di sebuah restoran.
Sejak saat itu, kisah berlanjut dan berjalan indah
seakan-akan tak pernah ada masalah antara aku dan Ranni dalam meniti keseharian
yang indah penuh warna dan kisah yang susah untuk dilupakan buatku.
Tangis, canda dan tawa selalu menjadi simponi
kerinduan di hatiku. Hubungan kami selama ini manis-manis saja dan aku sangat
menikmati kebersamaanku dengannya.
Ketika senja menapakkan dirinya di hadapanku, entah
kenapa tiba-tiba saja aku teringat akan bayangan Ranni, seakan-akan aku takut
kehilangan dirinya.
Kucoba untuk menghubunginya tapi Ranni tak mengangkat
telpon aku. Entah apa yang terjadi, tak biasanya Ranni seperti ini, aku semakin
cemas. Berkali-kali kuulangi untuk menghubungi Ranni tapi tak ada satupun
jawaban darinya. Apa yang sebenarnya terjadi, cemas, risau, kacau, galau semua
aku rasakan.
Seolah-olah aku merasa Ranni marah padaku tanpa sebab,
dan kuputuskan untuk mengirimkan pesan padanya.
Yang, malam ini aku merasa ada yang hilang dariku, tak
biasanya aku merasakan seperti ini, apa mungkin karena malam ini kamu tak
memberiku kabar, adakah kamu baik-baik saja di sana? please... balas pesan aku,
Yang...”
Berselang setelah beberapa menit menunggu balasan
pesannya, akhirnya Ranni membalasnya.
Hancur lebur perasaanku ketika kubaca balasan pesan dari Ranni.
Hancur lebur perasaanku ketika kubaca balasan pesan dari Ranni.
Maaf jika aku membuatmu cemas, malam ini aku baik-baik
saja, belajarlah tuk melupakanku, aku tak ingin jadi anak yang durhaka pada
orang tuaku, maafkan aku, lupakan saja diriku.
Bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal itu, apa yang sebenarnya terjadi, sungguh aku tak mengerti dengan keputusannya yang mendadak untuk mengakhiri kisah cinta ini, meninggalkan aku dengan tanya yang belum jelas.
Aku tak sempat mengangkat telponmu tadi, karena saat
itu aku tengah menjamu kedatangan keluargaku, dan ternyata, selama ini aku
dijodohkan oleh orang tuaku.
Kalimat itu adalah kalimat yang terakhir kalinya yang
masuk melalui pesan di handpone aku, setelah itu, dia raib dan
menghilang entah ke mana. Tak kusangka yang tersisa tinggal kenangan, kasih
sayang yang selama ini kurasakan berubah menjadi kebencian.
Aaahhhh.... Mengapa harus aku yang menerima kenyataan
pahit ini. Hancur seluruh hasratku, tiba-tiba saja aku harus kehilangan dia
yang telah kutetapkan sebagai cinta terakhir. Dia lupa dengan janji yang pernah
kita buat, tak ada lagi cinta yang lain hanya milik kita berdua. Aku akan
menunggumu sampai tiba pada waktunya ketika kita bersanding diatas pelaminan,
semuanya hilang.
Kamu egois, kamu keterlaluan, sungguh saat ini aku
benci kamu Ranni. Tak mungkin juga aku akan membawamu pergi yang sementara
selang dua minggu lagi kamu akan bersanding di atas pelaminan bersama lelaki
pilihan orang tuamu. Rasanya aku ingin membawamu kabur saja. Tapi entah
sekarang kamu ada di mana, pencarianku berakhir dengan luka dalam hati.
Hari demi hari aku lebih memilih untuk mengurung diri di kamar, aku masih belum percaya atas apa yang telah kau perbuat kepadaku. Aku begitu setia padamu begitu tulusnya menyayangimu, namun beginikah balasanmu?
Entahlah, apakah aku harus terus-menerus merasakan
kesakitan ini atau lebih baik aku mati saja. Malam itu aku masih tetap bertahan
di dalam kamar dengan sejuta pertanyaan tak terjawab. Badanku mulai gemetar,
oleh rasa sakit yang kurasakan.
Esok adalah pesta pernikahanmu, ragaku tiada berdaya,
terasa lemah, pikiranku kosong, mataku mulai berkunang-kunang seakan yang
kulihat di depanku menjadi terbalik dan tak kusadari ternyata aku terjatuh di
lantai dan tak sadarkan diri.
Keesokan harinya kita aku terbangun dari tidurku,
rasanya seperti mimpi. Ini bukan kamar aku, di mana aku, kenapa tiba-tiba saja
selang infus tepasang di lenganku. Ternyata semalam tadi aku jatuh pingsan di
dalam kamar dan tak sadarkan diri.
Hari ini adalah hari pesta pernikahan Ranni, sementara
aku harus terbaring di rumah sakit. Tak ada lagi yang harus kuharapkan kepadamu
Ranni, kamu telah dimiliki oleh lelaki pilihan orang tuamu. Aku harus bisa
terima kenyataan itu, pikirku.
Sementara aku terbuai menatap pemandangan di balik
jendela yang berada di samping ranjangku. Tiba-tiba saja pintu kamar di mana
aku dirawat terbuka oleh ulah anak kecil yang tengah bermain lalu tanpa sengaja
mendorong pintu. kubangunkan badanku untuk menutup pintu kamar itu, namun
ternyata fisikku masih lemah, aku tiba-tiba saja terjatuh di lantai dan tak
mampu berdiri sendiri karena kondisiku masih lemah.
Sampai akhirnya seorang wanita dengan wajah yang
mempesona datang menghampiriku, sementara aku berusaha untuk bisa berdiri dan
kembali ke ranjang itu.
“Selang infusnya terlepas, sebentar ya mas, saya
panggilkan susternya dulu untuk memasangnya.” Tutur katanya, ditambah senyuman
manisnya itu seakan-akan mampu membuatku lupa akan sosok Ranni.
“Eehh... tidak usah. Aku tidak apa-apa kok, aku hanya
ingin meminta sesuatu hal sama kamu, boleh?”
“Apa?”
“Aku ingin duduk di kursi roda itu, tolong bantu aku
untuk duduk di kursi itu.”
“Loh... bukannya mas harus istirahat?”
“Aku bosan di ruangan terus, aku ingin menghirup udara
yang sejuk, kamu mau tidak menolongku?” “Ya udah, sini saya bantu, sekalian
saya bawa ke suatu tempat ya mas? Dijamin di sana mas bisa menghirup udara yang
sejuk.”
Senyuman gadis itu membuat jantungku bergetar, entah
dia mau membawaku kemana, aku hanya menikmati perjalanan di atas kursi roda
sampai ke suatu tempat, tiba-tiba saja wanita itu menghentikan doronganku.
Dia melangkahkan kakinya ke depanku dan menatapi
langit yang begitu cerah sambil tersenyum.
“Mas tahu tidak, ketika kita harus dihadapkan pada
kenyataan yang sungguh bukan keinginan kita? Itu semua adalah tantangan untuk
kita, jangan terus menerus terpuruk pada hal yang telah terjadi yang membuat
kita jadi kehilangan arah,” ungkapnya penuh penghayatan, sementara aku hanya
tergeragap mendengar petuahnya.
Dia melanjutkan, “Seharusnya kita bangkit akan hal
itu, cinta itu sudah diatur oleh sang pencipta. Yakinlah cinta itu akan indah
pada waktunya.”
Entah apa yang ada di pikiran wanita itu, dari mana
dia tahu jika aku tengah patah hati.
“Maaf mas, aku melihat di wajah mas jelas terbaca
kalau mas itu sedang patah hati. Sungguh sia-sia kamu masih belum bisa bangkit
dari semua itu.”
Seraut wajahku tetap datar namun hatiku tidak, aku
tersadar bahwa ternyata dia mampu membuatku tersenyum kembali. Saat itu juga
aku mampu mengikhlaskan Ranni untuk bersama lelaki lain.
Hari demi hari ketika aku dirawat di rumah sakit,
rasanya kutemukan cinta sejati. Cinta yang datang manakala hatiku sedang hancur
dan dia mampu membuatku tersenyum kembali karena usahanya. Terima kasih Tuhanku
telah mengirimkanku bidadari yang sesungguhnya untukku.
Nhia Hasniaty Syam, Mahasiswi STAI Yapis Takalar dan mencintai menulis

