DUA HATI
Ketika cinta datang menghampiriku, mengapa dia datang disaat
yang tidak tepat. Aku bagaikan dera yang terhempas dalam angan yang tak pernah
membuatku bahagia.
Dan
Sekarang kau dan Dia hadir dalam kehidupanku yang
teramat membuatku bingung harus bagaimana. Kau dengannya sama-sama penting
dalam kehidupanku. Malam begitu dingin membuatku teringat akan dirimu dan dirinya. Seakan-akan aku
membutuhkanmu namun begitupun dengannya.
Andaikan aku bisa menebak perasaanku sendiri mungkin aku tak akan
seperti ini. Aku bingung seolah-olah aku takut kehilangan kau dan dia.
Cinta...
Sekian lama aku mengubur
dalam-dalam perasaanku setelah setahun berlalu kita mengakhiri semuanya. Kini
kamu hadir lagi di kehidupanku dan memintanya kembali. Meminta hubungan kita
yang dulu kembali lagi.
Aku masih ingat malam itu,
tiba-tiba handponku berdering panggilan masuk, aku masih ingat ketika aku
mangucapkan..
“ Assalamu alaikum..”
Dan kamu menjawabnya..
‘ Waalaikum Salam... bagaimana kabarnya..??”
Entah kenapa aku sangat mengenal
betul bahwa itu suara kamu.
Tiba-tiba saja jantungku berdegup
kencang seakan aku sangat ingin memakimu dan memukulmu andaikan dirimu sedang
di depanku. Namun, sayang aku hanya bisa mengeluarkan air mata sedang amarahku
aku pendam dalam-dalam. Sungguh betapa sakitnya perasaanku malam itu.
“ masih ingat sama aku??” hanya itu yang sanggup kuucapkan setelah
mendengar suaramu.
“sungguh aku tak akan pernah melupakan seseorang yang teramat penting
dalam hidupku” itu yang kau ucapkan kembali.
“huuhh....
Omong kosong...” air mataku kembali menetes....
“ selama ini aku minta maaf karena pergi dari kehidupanmu begitu saja”
“maaf....
Kemana saja kamu selama ini..
Belum puas kamu menyakitiku..?”
Namun sungguh tak kuat diriku
menahan rasa yang memang aku sangat mencintaimu. Setidaknya hal ini bukanlah
hal yang akan membuatku jatuh dan terpuruk. Setelah kau menjelaskan semua yang
terjadi antara kita. Aku tak bisa berbuat apa-apa tak sepenuhnya diriku
menyalahkanmu. Kuakui aku juga bersalah pada dirimu. Perpisahan yang dulu semua
terjadi karena aku.
Salah diriku yang pernah
diam-diam jadian dengan sahabatmu yang begitu berperan pentingnya dalam hidupmu
namun setelah kita jadian aku tak pernah memberi tahumu. Dan ternyata hal
itulah yang membuatmu sangat kecewa kepadaku.
Air mata ini bukanlah yang
pertama, namun setelah sekian lama aku menahan rasa sakit ini aku selalu
meneteskan air mata yang teramat pedih.
Aku sayang sama kamu....
Sekarang kamu hadir di
kehidupanku lagi setelah semuanya jelas kamu kembali memintaku untuk jadi
pendamping hidupmu. Sebenarnya sangat sulit untuk kutafsirkan semua
keinginanku. Tak mungkin juga aku menolaknya karena aku juga masih menyangimu.
Akhirnya kuputuskan tekadku untuk menerimamu kembali, namun semuanya tak
seperti yang dulu lagi. Tentunya semua telah berbeda.
Aku hanya bisa berharap jika
hubungan kita ini akan berakhir hingga maut menjemput kita. Aku cukup banyak
mengenalimu setelah perpisahan kita yang lalu.
Mengapa ketika cinta yang selama
ini kuharapkan begitu sulitnya kutafsirkan kembali. Ternyata dirimu telah
berubah dari yang lalu kamu membuat hubungan kita menjadi hambar. Sungguh
hubungan yang bukan roman. Kau membuatku semakin jatuh dan tersiksa dengan
hadirnya dirimu kembali. Andaikan aku mengetahui lebih awal aku akan lebih
memilihmu untuk tak hadir lagi dari kehidupanku.
Menyesal...
Jika semua ini kulakukan bukan
karena aku yang sangat sayang padamu, mungkin aku akan memilih untuk mengakhiri
hubungan kita yang baru saja kita jalani. Namun, sungguh semua ini karena aku
sangat menyayangimu, ketahuilah itu, apa aku harus menangis dan barlutut di
hadapanmu agar kamu menyadarinya. Sekarang ini aku hanya bisa bersabar
menghadapi dirimu, bahkan aku rela kamu memperbudak diriku setidaknya aku bisa
dekat dengan dirimu. Aku menyesal mengenal dirimu, karena cintaku diriku jadi
berantakan tak punya semangat hidup jika aku tak mengetahui kabarmu seharian.
Aku benci kata cinta yang sekarang ini kurasakan.
Aku hanya takut jika kamu memintaku kembali hanya untuk dirimu sendiri, aku
takut jika kamu hanya ingin mempermainkan diriku. Kejam...
Sebulan lebih hubungan kita, aku
sangat bahagia karena masih bisa bertahan sampai saat ini namun belakangan ini
kamu begitu cepatnya berubah pada diriku bahkan kamu tak pernah lagi memberiku
kabar, itupun jika aku yang memulainya baru dirimu memberikan sejuta alasan.
Sibuklah, capeklah, kuliah, nggak punya pulsa...
Semuanya telah kau ucapkan
padaku, namun begitu bodohnya diriku untuk memahami dan memaafan dirimu. Yang
terpenting hubungan kita tetap terjalin karena aku sangat menyayangimu.
Berkali-kali aku diperlakukan
seperti ini sehingga aku tersadar akan sikapmu, rasa sayang ini tak lagi sama
seperti dihari yang kemarin. Sungguh begitu cepatnya hilang begitu saja bahkan
aku sempat akan mengakhiri semuanya, semacam aku tersadar dari hipnotismu.
Anehnya mengapa sekarang ini aku jadi sangat membencimu, beda dihari yang
kemarin.
Dua tiga hari berlalu, aku tak
pernah lagi memulai untuk mengirimkan pesan singkat untukmu, aku tersadar bukan
aku yang harus memulainya jika memang kamu sayang padaku. Berkali-kali aku
berharap kabar darimu tapi sungguh teganya dirimu menggantung perasanku ini.
Aku semakin yakin bahwa kamu tak lagi menyayangiku. Kuputuskan untuk tidak lagi
memulai mengirimkan kabar dariku. Jika memang kamu merindukan diriku tentu kamu
yang akan memulainya. Setiap hari aku menunggu kabar darimu tapi sungguh tak
pernah ada kabar darimu. Rasa sayangku semakin hilang.
Sebenarnya aku sangat ingin
mengakhiri semuanya namun sungguh aku tak mau jika aku yang memintanya.
Kuputuskan untuk menjalni hubungan kita yang semakin hambar sampai kamu yang
memintanya untuk mengakhiri hubungan ini. Hanya itu yang aku pikirkan sekarang.
Sungguh dirimu tak pernah lagi mau menghargai diriku selayaknya orang yang kau
sayangi.
Ketika embun pagi menebarkan bau
pasak..
Entah ada apa pada dirimu,,
tiba-tiba saja kamu mengirimkan pesan singkat padaku.
“selamat pagi sayangku”
Sementara itu aku sedang
menikmati dinginnya embun pagi disudut jendela kamar pada rerumputan yang
digenangi racun gigil pada embun yang membasahinya.
Sungguh perasaanku tak ada lagi,
aku bahkan tak berharap lagi pesan singkatmu, yang kuharapkan kapan kamu
memintanya untuk mengakhiri hubungan kita. Hanya itu yang ada dipikiranku saat
itu.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar