Selasa, 26 November 2013

DUA HATI

Ketika cinta datang menghampiriku, mengapa dia datang disaat yang tidak tepat. Aku bagaikan dera yang terhempas dalam angan yang tak pernah membuatku bahagia.
Dan
Sekarang  kau dan Dia hadir dalam kehidupanku yang teramat membuatku bingung harus bagaimana. Kau dengannya sama-sama penting dalam kehidupanku. Malam begitu dingin membuatku teringat  akan dirimu dan dirinya. Seakan-akan aku membutuhkanmu namun begitupun dengannya.  Andaikan aku bisa menebak perasaanku sendiri mungkin aku tak akan seperti ini. Aku bingung seolah-olah aku takut kehilangan kau dan dia.
Cinta...
Sekian lama aku mengubur dalam-dalam perasaanku setelah setahun berlalu kita mengakhiri semuanya. Kini kamu hadir lagi di kehidupanku dan memintanya kembali. Meminta hubungan kita yang dulu kembali lagi.
Aku masih ingat malam itu, tiba-tiba handponku berdering panggilan masuk, aku masih ingat ketika aku mangucapkan..
“ Assalamu alaikum..”
Dan kamu menjawabnya..
‘ Waalaikum Salam... bagaimana kabarnya..??”
Entah kenapa aku sangat mengenal betul bahwa itu suara kamu.
Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang seakan aku sangat ingin memakimu dan memukulmu andaikan dirimu sedang di depanku. Namun, sayang aku hanya bisa mengeluarkan air mata sedang amarahku aku pendam dalam-dalam. Sungguh betapa sakitnya perasaanku malam itu.
“ masih ingat sama aku??” hanya itu yang sanggup kuucapkan setelah mendengar suaramu.
“sungguh aku tak akan pernah melupakan seseorang yang teramat penting dalam hidupku” itu yang kau ucapkan kembali.
“huuhh....
Omong kosong...” air mataku kembali menetes....
“ selama ini aku minta maaf karena pergi dari kehidupanmu begitu saja”
“maaf....
Kemana saja kamu selama ini..
Belum puas kamu menyakitiku..?”
Namun sungguh tak kuat diriku menahan rasa yang memang aku sangat mencintaimu. Setidaknya hal ini bukanlah hal yang akan membuatku jatuh dan terpuruk. Setelah kau menjelaskan semua yang terjadi antara kita. Aku tak bisa berbuat apa-apa tak sepenuhnya diriku menyalahkanmu. Kuakui aku juga bersalah pada dirimu. Perpisahan yang dulu semua terjadi karena aku.
Salah diriku yang pernah diam-diam jadian dengan sahabatmu yang begitu berperan pentingnya dalam hidupmu namun setelah kita jadian aku tak pernah memberi tahumu. Dan ternyata hal itulah yang membuatmu sangat kecewa kepadaku.
Air mata ini bukanlah yang pertama, namun setelah sekian lama aku menahan rasa sakit ini aku selalu meneteskan air mata yang teramat pedih.
Aku sayang sama kamu....
Sekarang kamu hadir di kehidupanku lagi setelah semuanya jelas kamu kembali memintaku untuk jadi pendamping hidupmu. Sebenarnya sangat sulit untuk kutafsirkan semua keinginanku. Tak mungkin juga aku menolaknya karena aku juga masih menyangimu. Akhirnya kuputuskan tekadku untuk menerimamu kembali, namun semuanya tak seperti yang dulu lagi. Tentunya semua telah berbeda.
Aku hanya bisa berharap jika hubungan kita ini akan berakhir hingga maut menjemput kita. Aku cukup banyak mengenalimu setelah perpisahan kita yang lalu.
Mengapa ketika cinta yang selama ini kuharapkan begitu sulitnya kutafsirkan kembali. Ternyata dirimu telah berubah dari yang lalu kamu membuat hubungan kita menjadi hambar. Sungguh hubungan yang bukan roman. Kau membuatku semakin jatuh dan tersiksa dengan hadirnya dirimu kembali. Andaikan aku mengetahui lebih awal aku akan lebih memilihmu untuk tak hadir lagi dari kehidupanku.
Menyesal...
Jika semua ini kulakukan bukan karena aku yang sangat sayang padamu, mungkin aku akan memilih untuk mengakhiri hubungan kita yang baru saja kita jalani. Namun, sungguh semua ini karena aku sangat menyayangimu, ketahuilah itu, apa aku harus menangis dan barlutut di hadapanmu agar kamu menyadarinya. Sekarang ini aku hanya bisa bersabar menghadapi dirimu, bahkan aku rela kamu memperbudak diriku setidaknya aku bisa dekat dengan dirimu. Aku menyesal mengenal dirimu, karena cintaku diriku jadi berantakan tak punya semangat hidup jika aku tak mengetahui kabarmu seharian. Aku  benci kata cinta yang sekarang ini kurasakan. Aku hanya takut jika kamu memintaku kembali hanya untuk dirimu sendiri, aku takut jika kamu hanya ingin mempermainkan diriku. Kejam...
Sebulan lebih hubungan kita, aku sangat bahagia karena masih bisa bertahan sampai saat ini namun belakangan ini kamu begitu cepatnya berubah pada diriku bahkan kamu tak pernah lagi memberiku kabar, itupun jika aku yang memulainya baru dirimu memberikan sejuta alasan. Sibuklah, capeklah, kuliah, nggak punya pulsa...
Semuanya telah kau ucapkan padaku, namun begitu bodohnya diriku untuk memahami dan memaafan dirimu. Yang terpenting hubungan kita tetap terjalin karena aku sangat menyayangimu.
Berkali-kali aku diperlakukan seperti ini sehingga aku tersadar akan sikapmu, rasa sayang ini tak lagi sama seperti dihari yang kemarin. Sungguh begitu cepatnya hilang begitu saja bahkan aku sempat akan mengakhiri semuanya, semacam aku tersadar dari hipnotismu. Anehnya mengapa sekarang ini aku jadi sangat membencimu, beda dihari yang kemarin.
Dua tiga hari berlalu, aku tak pernah lagi memulai untuk mengirimkan pesan singkat untukmu, aku tersadar bukan aku yang harus memulainya jika memang kamu sayang padaku. Berkali-kali aku berharap kabar darimu tapi sungguh teganya dirimu menggantung perasanku ini. Aku semakin yakin bahwa kamu tak lagi menyayangiku. Kuputuskan untuk tidak lagi memulai mengirimkan kabar dariku. Jika memang kamu merindukan diriku tentu kamu yang akan memulainya. Setiap hari aku menunggu kabar darimu tapi sungguh tak pernah ada kabar darimu. Rasa sayangku semakin hilang.
Sebenarnya aku sangat ingin mengakhiri semuanya namun sungguh aku tak mau jika aku yang memintanya. Kuputuskan untuk menjalni hubungan kita yang semakin hambar sampai kamu yang memintanya untuk mengakhiri hubungan ini. Hanya itu yang aku pikirkan sekarang. Sungguh dirimu tak pernah lagi mau menghargai diriku selayaknya orang yang kau sayangi.
Ketika embun pagi menebarkan bau pasak..
Entah ada apa pada dirimu,, tiba-tiba saja kamu mengirimkan pesan singkat padaku.
“selamat pagi sayangku”
Sementara itu aku sedang menikmati dinginnya embun pagi disudut jendela kamar pada rerumputan yang digenangi racun gigil pada embun yang membasahinya.
Sungguh perasaanku tak ada lagi, aku bahkan tak berharap lagi pesan singkatmu, yang kuharapkan kapan kamu memintanya untuk mengakhiri hubungan kita. Hanya itu yang ada dipikiranku saat itu.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar